Minggu, 24 Maret 2013

I am Wa ( Chapter I : Wahidin Sudiro Husodo, Page II )



Kedentang Kedentung Kedentang Kedentung…

Ratusan anak berbaju ungu dan putih merah berlarian mendengar suara lonceng yang bergema keras di telinga saat aku, ayah, mamak, dan kak wilda sedang duduk dibawah pinggiran pohon mahoni wahidin. Kemudian seakan tak mau kalah ibu-ibu berbaju seragam ungu  mengiringi anak-anak itu membentuk barisan teratur yang mencirikan dari kelas mana mereka berasal. dengan tampilan wajah garang kayak dalam film ibu tiri nya versi film Malaysia yang kutonton di tivi, anak-anak itu senyap kontan tak bersuara dan Sontak melihat itu aku pun jadi takut.

Mamak menggenggam tanganku dan menarik berjalan pelan mendekati seorang guru berperawakan cina dengan wajah putih dan suaranya yang lembut menyambut sosok  aku dan mamak yang akan bertatapan dengannya. Ia berkenalan dengan tak salah pendengaranku, Ia menyebutkan namanya bernama Ibu Lisa. Tak lama berselang mamak dan ia berbicara, mamak melepaskan pegangannya padaku dan menyerahkan aku pada sosok ibu guru yang lembut ini. Tiba-tiba aku Menjerit dalam tangisku mengerang, mereka pun gusar. Aku merasa seperti seorang anak yang akan dijual kepada orang lain dan menjadi korban perdagangan anak usia 5 tahun.Panik menyelimuti dan Akupun berlari dan mengejar ayah yang tengah mengantar kak wilda di dekat barisan putih merahnya.

Ayah hanya tertawa melihat ekspresi gilaku saat itu, Ia pun mengangkatku dalam peluknya dan mendekatkanku kembali kepada mamak dan guru cina itu. Ia mengusap-mengusap rambut teruraiku yang lembut kala melihatku tertunduk lemas dan menangis diatas bahunya. “katanya mau sekolah, masa sama ibu guru takut.” Kata mamak yang mencoba mengambil ku dari dekapan ayah, dan aku menolak. Dengan wajah elegan ayah, ayah hanya mengangguk dan berucap pelan kepada mamak “sudah gak pa-pa..”. ayah sangat mengerti pada kondisi aku yang gak biasa ditinggalkan dengan orang asing.

10 Menit Berlalu. Anak-anak dalam beragam warna kembali berlari kencang seakan ingin menjadi juara pertama untuk memenangkan lomba memasuki ruangan yang tercepat sesuai dengan kelasnya. Gubrak gubrak, terdengarku saat melihat ada beberapa anak yang menangis karena jatuh saling dorong oleh temannya. Sungguh tragis sekolah dalam benakku.Bu lisa menggiring beberapa orang tua dan anak-anak nya ke depan sebuah ruangan kelas yang kulihat diatas pintu terpampang huruf b besar dan angka 2 disebelahnya. TK B2. makna tulisan saat aku mencoba menterjemahkan secara perlahan deretan huruf dan angka yang berjejer yang telah diajarkan oleh kak windy beberapa bulan yang lalu. Ku lihat juga disamping ayah, seorang ibu menggandeng anak berambut ikal yang tersenyum geli melihatku dalam gendongan ayah ketika bu lisa memberikan wejangan kepada para orang tua kami. Dengan malunya, aku memberikan isyarat turun hingga ayah menurunkanku dan berdiri disampingnya.

Berputar2 kepalaku dalam skala 360 derajat melihat anak-anak dari ragam warna kulit, mata dan hidung yang rata-rata kujuluki mancung ke dalam, berdiri bersebelahan disamping orang tuanya yang juga berbeda karakter dan latar belakang. “Ayo… anak anak semua, salam kepada orang tuanya dan kita akan mulai belajar…” lantang suara bu lisa sambil tersenyum  memberikan instruksi gerakan polantas tanda jalan. Sebagian anak menurut, dan sebagian anak sepertiku mengaung-ngaung menandakan penolakan berpisah dari orang tuanya.Tapi Anak ikal yang aneh tu kembali menertawaiku sambil menunjukkan ekspresi mengejek julur lidah pada aku yang sedang memberontak minta jangan ditinggal ayah. Merah padam wajah putih ku kayak bulek terkena panas di kota belawan melihat ejekannya. Dan aku merengut, turut masuk dalam rombongan kaum anak berbaju ungu. gak mau kalah, malu dan jengkel.

Selasa, 19 Maret 2013

I am Wa ( Chapter I : Wahidin Sudiro Husodo, Page I )

Tetap kulihat detik bergeraknya jarum panjang nan kecil itu dalam satu putaran penuh tak tertahankan. tepat Pukul 00.00 wib, Ia berjalan kencang seakan mengerti bahwa hari-hari yang aku lalui biasa saja. dari kejauhan terdengar suara lonceng pos kamling combat bersamaan dengan  kawanan sahabat si zul hitam pekat yang masih berlatih azan di pinggiran masjid Al-Ittihad. Seperti biasa, spring bed yang bergelar Spring Bed Busuk dari mamak ini menemaniku untuk bergelisah. berputar kekanan ke kiri tak tentu arah. sambil tersayup dan mata ini melihat koyakan tempelan kertas di dinding yang terhembus sepoian dari kipas angin tua pinjaman ini.

Tah dari mana muaranya, terlintas kenangan saat aku merasakan indahnya berada pada dunia 16 Tahun yang lalu, disebut TK Wahidin Sudiro Husodo.persis diangkat oleh nama sosok pahlawan pendidikan Indonesia, yang aku pun tidak tahu kenapa sekolah ini bernama beliau, yang jelas pasti berhubungan dengan pendidikan.Pagi itu, aku dirusuhi oleh kak Windy, kakak ku pertama yang judes, supel tapi baik. Ia menggoyang-goyang dan mencipratkan air tepat di mukaku karena tak juga aku bangkit. Dengan lusuh dan wajah penuh emosi, luluh juga aku tuk ikuti kemauan kak windy, bergegas, berbenah menyiapkan seluk beluk perlengkapan sekolah yang telah didaftarkan mamakku 2 minggu lalu.

Ini namanya bersekolah. Saat segalanya menjadi pagi yang super sibuk, padahal hari masih gelap gulita, ayam masih sahutan berkokok, dan doa orang selesai sholat subuh masih terdengar jelas di seberang benteng sungai deli. Di suruh merasakan dinginnya air pagi yang harus di guyur dari rambut ke ujung kaki, dengan nada suara ngus-ngusan sambil menghentak-hentakkan gigi atas bawah yang berbunyi jelas seperti gerakan jalan paskibraka yang sering kulihat di tv saat 17an, aku bergetar kedinginan. Tak berselang, kulihat mamak membawakan handuk putih lebar, menutupiku, dan mennggunyuk-gunyukkan juga membersihkan sisa air yang masih melekat dalam kulit putih anak usia 5 tahun yang tak biasa mandi subuh. “Biasakan mandi pagi, namanya mau sekolah biar jadi presiden nanti” seru tawanya sambil mengikatkan handuk basah itu dibadanku.

Pagi itu menjadi sejarah bagiku. aku disuruh duduk rapi dan manis, sambil mendengarkan suara mesin mobil katana berwarna Merah tahun 90an milik ayahku yang sedang melakukan pemanasan untuk bertugas mengantarkan hari pertamaku bersekolah di TK Wahidin Sudiro Husodo. Dengan cekatnya, mamak bercerita segala hal tentang ini dan itu, boleh dan tidak boleh, semuanya dalam satu paket extra cepat sambil menyuapi aku dengan beberapa sendok  nasi plus telur dadar yang sedikit asin karena repotnya mamak pagi itu.

Setelah mamak berlalu, aku berdiri dan menatap seluruh diriku dengan nanar wajah yang aneh melihat penampilan pertamaku bersekolah. Sambil cekikikan dalam hati, mamak menarikku tuk bergegas pergi sambil memanggil wilda, kakakku nomor empat, tuk bergegas turut cepat masuk ke dalam mobil. “jangan lupa, biasakan baca doa sebelum berangkat. pandaikan???” tanyanya dengan khas vocal melayu kental tempahan Labuhan Deli, sambil memutarkan steer mobil melewati pagar rumah. Aku manggut sambil berkomat kamit membacakan doa berangkat sekolah versi diriku yang belum tahu mengenai makhraj huruf hijaiyah yang benar saat itu. Bismillahirrahmanirrahim…..