Rabu, 31 Juli 2013

Teriris

Dalam kesalahan...
Tatkala gelap gulita menjadi sukma kelamnya nurani....
Bercampur aduk dalam kemurnian sepi...
sendiri...

Malam punya arti buat dia yang hidup...
Melayangkan Senja Tipis ketika kenangan indahnya duniawi...
lupakan Akhirat....
Semua terasa seperti kiasan...
Ya... Seperti Kiasan atau memang sebuah kiasan Sejati?

Sang Maha sungguh Adil...
Saat Hitam berdampingan dengan Putih...
Saat Gelap sejalan dengan Terang...
Namun Egois menciptakan sebuah Karikatur Klasik....
Harus menjadi Putih!
Lupakan Hitam!

Lihatlah bagaimana Kehidupan Berjalan....
Rotasi itu Bergerak, tanpa harus berhenti Introspeksi mundur...
Dari senja lubuk hati...
Teriris...


karya : Wahyu A.S.

( Kamis, 01 Agustus 2013, Pkl 00.14 Wib )

Senin, 29 Juli 2013

Haus dan Benar-Benar Haus

Assalamualaikum Wr. Wb.

Malam yang indah, dalam balutan suara bilal yang saling bersahut-sahutan mengucapkan lafas dimulainya terawih...
dan kembali menjadi sebagai pendengar yang baik, melihat dan menatap nanar, ditemani benda ajaib 7 inch...

entah dari mana asal muasalnya judul ini, tapi ini benar-benar terasa....
Rasa Haus yang bersangatan...
bukan karena menginginkan segelas es campur, es kelapa, es buah dan bermacam jenis es yang di jajakan di kota ini...
tapi Rasa Haus ingin melanjutkan pendidikan....

Ketika rasa iri yang selalu bergejolak, melihat beberapa pemuda dan pemudi berjalan memasuki satu kampus khas keagamaan di kota ini....
Menuntut pendidikan Keagamaan guna nantinya menjadi penerus dunia yang mampu menyebarkan benih-benih kebaikan di sekelilingnya... ( agak dilebaykan sedikit )
Karenanya terkadang bertanya pada diri...
"Bukan Uang yang menentukan kau dapat Ilmu atau tidak... Tapi Niat!!!"
itulah yang dikatakan oleh si Hati saat Berbicara pada si Otak tentang betapa pentingnya Niat!!

Bukan berharap menenteng Gelar panjang dalam deretan nama terbaik buatan orang tua ini...
tapi Semakin dalam Ilmu/ Pendidikan itu kita masuki... maka kita akan semakin tahu, betapa besarnya nikmat dunia yang diciptakan Allah S.W.T.!!!!

Terbayang gak tentang LAMPU!
Lampu itu diciptakan oleh Thomas Alfa Edison.....
dan Kabarnya Thomas Alfa Edison itu Melakukan sebuah percobaan untuk ingin menciptakan keadaan malam yang terang seperti siang, dengan sebuah benda yang disebut Lampu.... 999x percobaan yang Ia lakukan... dan tak jarang Ocehan dan Cemoohan yang Ia dapati dari orang sekitarnya, yang berpikir mungkin itu adalah hal yang mustahil... tapi lihatlah Saat ini! Tanpa ada percobaan dari beliau di masa silam, maka tak mungkin kita dapat merasakan nikmatnya terang di malam hari....

Itu adalah salah satu dari Jutaan Ilmu yang memotivasi saya dan kita semua untuk terus belajar...
Bukan karena saya di Hukum.... tak berarti saya tidak boleh belajar Fisika atau Matematika...
Kita bebas mengeksplorasi Ilmu apapun yang harus sesuai dengan Norma dan Etika yang benar....
Jangan pula kita menyalahi aturan untuk belajar atau membuat sesuatu yang terlarang...
karena ada sebuah pepatah...
"Belajarlah sebelum Belajar itu Dilarang"

Sukses dan Semangat Buat Kita Semua...
Terutama buat saya sendiri....
Semoga Niat saya kesampaian untuk Belajar lagi....

Rutan Tanjung Pura, 29 Juli 2013, Pukul 21: 04 PM. ( Kondisi Aman dan Terkendali )

Jumat, 26 Juli 2013

Lukisan Balik Jeruji

Assalamualaikum Wr. Wb.

Andai ada permintaan untuk memohon yang lebih mulia maka hanya kata MAAF lah yang mewakilinya...
Sudah beberapa bulan, sejak hijrah menjadi salah satu penghuni kota sejarah melayu di persimpangan menuju aceh ini dan dikarenakan alat ajaib berukuran 10 Inch ni tidak bersama pemiliknya, maka tidak ada kata, tidak ada kalimat, tidak ada ungkapan.

Masih berbicara 1 kata yang sama yaitu IMPIAN.
Satu kata mandraguna yang tidak seorang pun tahu kapan dan bagaimana Ia datang menghampiri atau dihampiri.

Berbicara Impian yang selalu dalam lukisan... bahkan di tempel di dinding2 bak Perangko untuk Mengirimkan kemana Impian ini akan dibawa. namun kali ini tak sangka bahwa Lukisan ini terkurung di Balik Jeruji.  hehehehe

Ya... Balik Jeruji bersama para orang-orang yang butuh uluran tangan, kembali pada ingatan untuk tidak melakukan tindak kriminalitas.
Aku dan Mereka sepertinya dalam Ujian.....

Sempat gusar klo ini adalah Ujian, tapi Khusnuzhon Qalbu berkata lain.
Allah S.W.T. sudah merencanakan sesuatu yang spesial yang dimulai dibalik jeruji...
Bersama orang-orang yang hebat.... yang spesial... walau tak semuanya punya harta, namun mereka punya hati.... One Heart *berlagak bahasa kecek london....

4 Bulan telah berjalan....
Ketika semua berawal dari hanya sendiri....
Kini aku memiliki Banyak Keluarga...
Banyak sahabat....
dan Banyak Orang-Orang Spesial yang terlupakan...

Lebih pelik ketika berbicara kondisi keuangan yang prakiraan sungguh Alhamdulillah sesuatu....
Namun terbalik menjadi Nauzubillah mengapa....
hehehe

Ntah sebagai Hobi atau keisengan yang serba merasa mau dan mau....
Maka tak jarang, di akhir bulan sempat miris melihat beberapa lembar tinggal kenangan hilang menjadi satu lembar penghuni terakhir isi dompet.... ckckckckc

btw Kegiatan disini, selain Bekerja keluar masuk Penjara....
Sambil menambah kegiatan yang dapat menstabilkan metabolisme tubuh *alay....
kini ku bergabung dengan Dojang Taekwondo Tanjung Pura....
Ya Alhamdulillah, Selain menambah banyak Kerabat, Badanpun Tetap Stabil....

Namun masih ada satu impian yang dlu pernah terbesit di kota kelahiran yang ingin dibuat disni...
Penerus Dunia....
Bukan karena malu atau pun gengsi... tapi sepertinya sulit menjadi minoritas tuk merubah mayoritas....
atau itu semua menjadi alasan karena pribadi masih jauh dari kata BAIK...

Ya...
Semua masih dalam Harapan....
Terlebih lagi harapan yang tak ingin sendirian disini...
Hahaha :D

Bismillahirrahmanirrahim....
Semoga Besok Lebih Indah dari Hari ini...

Rutan Tanjung Pura, 26 Juli 2013 Pukul 20 : 18 ( Kondisi Aman dan Terkendali )

Minggu, 24 Maret 2013

I am Wa ( Chapter I : Wahidin Sudiro Husodo, Page II )



Kedentang Kedentung Kedentang Kedentung…

Ratusan anak berbaju ungu dan putih merah berlarian mendengar suara lonceng yang bergema keras di telinga saat aku, ayah, mamak, dan kak wilda sedang duduk dibawah pinggiran pohon mahoni wahidin. Kemudian seakan tak mau kalah ibu-ibu berbaju seragam ungu  mengiringi anak-anak itu membentuk barisan teratur yang mencirikan dari kelas mana mereka berasal. dengan tampilan wajah garang kayak dalam film ibu tiri nya versi film Malaysia yang kutonton di tivi, anak-anak itu senyap kontan tak bersuara dan Sontak melihat itu aku pun jadi takut.

Mamak menggenggam tanganku dan menarik berjalan pelan mendekati seorang guru berperawakan cina dengan wajah putih dan suaranya yang lembut menyambut sosok  aku dan mamak yang akan bertatapan dengannya. Ia berkenalan dengan tak salah pendengaranku, Ia menyebutkan namanya bernama Ibu Lisa. Tak lama berselang mamak dan ia berbicara, mamak melepaskan pegangannya padaku dan menyerahkan aku pada sosok ibu guru yang lembut ini. Tiba-tiba aku Menjerit dalam tangisku mengerang, mereka pun gusar. Aku merasa seperti seorang anak yang akan dijual kepada orang lain dan menjadi korban perdagangan anak usia 5 tahun.Panik menyelimuti dan Akupun berlari dan mengejar ayah yang tengah mengantar kak wilda di dekat barisan putih merahnya.

Ayah hanya tertawa melihat ekspresi gilaku saat itu, Ia pun mengangkatku dalam peluknya dan mendekatkanku kembali kepada mamak dan guru cina itu. Ia mengusap-mengusap rambut teruraiku yang lembut kala melihatku tertunduk lemas dan menangis diatas bahunya. “katanya mau sekolah, masa sama ibu guru takut.” Kata mamak yang mencoba mengambil ku dari dekapan ayah, dan aku menolak. Dengan wajah elegan ayah, ayah hanya mengangguk dan berucap pelan kepada mamak “sudah gak pa-pa..”. ayah sangat mengerti pada kondisi aku yang gak biasa ditinggalkan dengan orang asing.

10 Menit Berlalu. Anak-anak dalam beragam warna kembali berlari kencang seakan ingin menjadi juara pertama untuk memenangkan lomba memasuki ruangan yang tercepat sesuai dengan kelasnya. Gubrak gubrak, terdengarku saat melihat ada beberapa anak yang menangis karena jatuh saling dorong oleh temannya. Sungguh tragis sekolah dalam benakku.Bu lisa menggiring beberapa orang tua dan anak-anak nya ke depan sebuah ruangan kelas yang kulihat diatas pintu terpampang huruf b besar dan angka 2 disebelahnya. TK B2. makna tulisan saat aku mencoba menterjemahkan secara perlahan deretan huruf dan angka yang berjejer yang telah diajarkan oleh kak windy beberapa bulan yang lalu. Ku lihat juga disamping ayah, seorang ibu menggandeng anak berambut ikal yang tersenyum geli melihatku dalam gendongan ayah ketika bu lisa memberikan wejangan kepada para orang tua kami. Dengan malunya, aku memberikan isyarat turun hingga ayah menurunkanku dan berdiri disampingnya.

Berputar2 kepalaku dalam skala 360 derajat melihat anak-anak dari ragam warna kulit, mata dan hidung yang rata-rata kujuluki mancung ke dalam, berdiri bersebelahan disamping orang tuanya yang juga berbeda karakter dan latar belakang. “Ayo… anak anak semua, salam kepada orang tuanya dan kita akan mulai belajar…” lantang suara bu lisa sambil tersenyum  memberikan instruksi gerakan polantas tanda jalan. Sebagian anak menurut, dan sebagian anak sepertiku mengaung-ngaung menandakan penolakan berpisah dari orang tuanya.Tapi Anak ikal yang aneh tu kembali menertawaiku sambil menunjukkan ekspresi mengejek julur lidah pada aku yang sedang memberontak minta jangan ditinggal ayah. Merah padam wajah putih ku kayak bulek terkena panas di kota belawan melihat ejekannya. Dan aku merengut, turut masuk dalam rombongan kaum anak berbaju ungu. gak mau kalah, malu dan jengkel.

Selasa, 19 Maret 2013

I am Wa ( Chapter I : Wahidin Sudiro Husodo, Page I )

Tetap kulihat detik bergeraknya jarum panjang nan kecil itu dalam satu putaran penuh tak tertahankan. tepat Pukul 00.00 wib, Ia berjalan kencang seakan mengerti bahwa hari-hari yang aku lalui biasa saja. dari kejauhan terdengar suara lonceng pos kamling combat bersamaan dengan  kawanan sahabat si zul hitam pekat yang masih berlatih azan di pinggiran masjid Al-Ittihad. Seperti biasa, spring bed yang bergelar Spring Bed Busuk dari mamak ini menemaniku untuk bergelisah. berputar kekanan ke kiri tak tentu arah. sambil tersayup dan mata ini melihat koyakan tempelan kertas di dinding yang terhembus sepoian dari kipas angin tua pinjaman ini.

Tah dari mana muaranya, terlintas kenangan saat aku merasakan indahnya berada pada dunia 16 Tahun yang lalu, disebut TK Wahidin Sudiro Husodo.persis diangkat oleh nama sosok pahlawan pendidikan Indonesia, yang aku pun tidak tahu kenapa sekolah ini bernama beliau, yang jelas pasti berhubungan dengan pendidikan.Pagi itu, aku dirusuhi oleh kak Windy, kakak ku pertama yang judes, supel tapi baik. Ia menggoyang-goyang dan mencipratkan air tepat di mukaku karena tak juga aku bangkit. Dengan lusuh dan wajah penuh emosi, luluh juga aku tuk ikuti kemauan kak windy, bergegas, berbenah menyiapkan seluk beluk perlengkapan sekolah yang telah didaftarkan mamakku 2 minggu lalu.

Ini namanya bersekolah. Saat segalanya menjadi pagi yang super sibuk, padahal hari masih gelap gulita, ayam masih sahutan berkokok, dan doa orang selesai sholat subuh masih terdengar jelas di seberang benteng sungai deli. Di suruh merasakan dinginnya air pagi yang harus di guyur dari rambut ke ujung kaki, dengan nada suara ngus-ngusan sambil menghentak-hentakkan gigi atas bawah yang berbunyi jelas seperti gerakan jalan paskibraka yang sering kulihat di tv saat 17an, aku bergetar kedinginan. Tak berselang, kulihat mamak membawakan handuk putih lebar, menutupiku, dan mennggunyuk-gunyukkan juga membersihkan sisa air yang masih melekat dalam kulit putih anak usia 5 tahun yang tak biasa mandi subuh. “Biasakan mandi pagi, namanya mau sekolah biar jadi presiden nanti” seru tawanya sambil mengikatkan handuk basah itu dibadanku.

Pagi itu menjadi sejarah bagiku. aku disuruh duduk rapi dan manis, sambil mendengarkan suara mesin mobil katana berwarna Merah tahun 90an milik ayahku yang sedang melakukan pemanasan untuk bertugas mengantarkan hari pertamaku bersekolah di TK Wahidin Sudiro Husodo. Dengan cekatnya, mamak bercerita segala hal tentang ini dan itu, boleh dan tidak boleh, semuanya dalam satu paket extra cepat sambil menyuapi aku dengan beberapa sendok  nasi plus telur dadar yang sedikit asin karena repotnya mamak pagi itu.

Setelah mamak berlalu, aku berdiri dan menatap seluruh diriku dengan nanar wajah yang aneh melihat penampilan pertamaku bersekolah. Sambil cekikikan dalam hati, mamak menarikku tuk bergegas pergi sambil memanggil wilda, kakakku nomor empat, tuk bergegas turut cepat masuk ke dalam mobil. “jangan lupa, biasakan baca doa sebelum berangkat. pandaikan???” tanyanya dengan khas vocal melayu kental tempahan Labuhan Deli, sambil memutarkan steer mobil melewati pagar rumah. Aku manggut sambil berkomat kamit membacakan doa berangkat sekolah versi diriku yang belum tahu mengenai makhraj huruf hijaiyah yang benar saat itu. Bismillahirrahmanirrahim…..