Tetap kulihat detik bergeraknya jarum panjang nan kecil itu dalam satu
putaran penuh tak tertahankan. tepat Pukul 00.00 wib, Ia berjalan kencang
seakan mengerti bahwa hari-hari yang aku lalui biasa saja. dari kejauhan
terdengar suara lonceng pos kamling combat bersamaan dengan kawanan sahabat si zul hitam pekat yang masih berlatih
azan di pinggiran masjid Al-Ittihad. Seperti biasa, spring bed yang bergelar
Spring Bed Busuk dari mamak ini menemaniku untuk bergelisah. berputar kekanan
ke kiri tak tentu arah. sambil tersayup dan mata ini melihat koyakan tempelan
kertas di dinding yang terhembus sepoian dari kipas angin tua pinjaman ini.
Tah
dari mana muaranya, terlintas kenangan saat aku merasakan indahnya berada pada
dunia 16 Tahun yang lalu, disebut TK Wahidin Sudiro Husodo.persis diangkat oleh
nama sosok pahlawan pendidikan Indonesia, yang aku pun tidak tahu kenapa
sekolah ini bernama beliau, yang jelas pasti berhubungan dengan pendidikan.Pagi itu, aku dirusuhi oleh kak Windy, kakak ku pertama yang judes, supel
tapi baik. Ia menggoyang-goyang dan mencipratkan air tepat di mukaku karena tak
juga aku bangkit. Dengan lusuh dan wajah penuh emosi, luluh juga aku tuk ikuti
kemauan kak windy, bergegas, berbenah menyiapkan seluk beluk perlengkapan
sekolah yang telah didaftarkan mamakku 2 minggu lalu.
Ini namanya bersekolah. Saat segalanya menjadi pagi yang super sibuk,
padahal hari masih gelap gulita, ayam masih sahutan berkokok, dan doa orang
selesai sholat subuh masih terdengar jelas di seberang benteng sungai deli. Di suruh
merasakan dinginnya air pagi yang harus di guyur dari rambut ke ujung kaki,
dengan nada suara ngus-ngusan sambil
menghentak-hentakkan gigi atas bawah yang berbunyi jelas seperti gerakan jalan
paskibraka yang sering kulihat di tv saat 17an, aku bergetar kedinginan. Tak berselang,
kulihat mamak membawakan handuk putih lebar, menutupiku, dan mennggunyuk-gunyukkan juga membersihkan sisa air yang masih melekat dalam kulit putih anak usia 5
tahun yang tak biasa mandi subuh. “Biasakan mandi pagi, namanya mau sekolah
biar jadi presiden nanti” seru tawanya sambil mengikatkan handuk basah itu
dibadanku.
Pagi itu menjadi sejarah bagiku. aku disuruh duduk rapi dan manis, sambil
mendengarkan suara mesin mobil katana berwarna Merah tahun 90an milik ayahku
yang sedang melakukan pemanasan untuk bertugas mengantarkan hari pertamaku
bersekolah di TK Wahidin Sudiro Husodo. Dengan cekatnya, mamak bercerita segala
hal tentang ini dan itu, boleh dan tidak boleh, semuanya dalam satu paket extra
cepat sambil menyuapi aku dengan beberapa sendok nasi plus telur dadar yang sedikit asin karena
repotnya mamak pagi itu.
Setelah mamak berlalu, aku berdiri dan menatap seluruh
diriku dengan nanar wajah yang aneh melihat penampilan pertamaku bersekolah. Sambil
cekikikan dalam hati, mamak menarikku tuk bergegas pergi sambil memanggil
wilda, kakakku nomor empat, tuk bergegas turut cepat masuk ke dalam mobil. “jangan
lupa, biasakan baca doa sebelum berangkat. pandaikan???” tanyanya dengan khas vocal
melayu kental tempahan Labuhan Deli, sambil memutarkan steer mobil melewati pagar rumah. Aku manggut sambil berkomat kamit
membacakan doa berangkat sekolah versi diriku yang belum tahu mengenai makhraj
huruf hijaiyah yang benar saat itu. Bismillahirrahmanirrahim…..
numpang eksis yo mas...
BalasHapushahahahaa....
monggo atuh....
BalasHapuskomentarnya mana atuh akang teh???
BalasHapus