Selasa, 19 Maret 2013

I am Wa ( Chapter I : Wahidin Sudiro Husodo, Page I )

Tetap kulihat detik bergeraknya jarum panjang nan kecil itu dalam satu putaran penuh tak tertahankan. tepat Pukul 00.00 wib, Ia berjalan kencang seakan mengerti bahwa hari-hari yang aku lalui biasa saja. dari kejauhan terdengar suara lonceng pos kamling combat bersamaan dengan  kawanan sahabat si zul hitam pekat yang masih berlatih azan di pinggiran masjid Al-Ittihad. Seperti biasa, spring bed yang bergelar Spring Bed Busuk dari mamak ini menemaniku untuk bergelisah. berputar kekanan ke kiri tak tentu arah. sambil tersayup dan mata ini melihat koyakan tempelan kertas di dinding yang terhembus sepoian dari kipas angin tua pinjaman ini.

Tah dari mana muaranya, terlintas kenangan saat aku merasakan indahnya berada pada dunia 16 Tahun yang lalu, disebut TK Wahidin Sudiro Husodo.persis diangkat oleh nama sosok pahlawan pendidikan Indonesia, yang aku pun tidak tahu kenapa sekolah ini bernama beliau, yang jelas pasti berhubungan dengan pendidikan.Pagi itu, aku dirusuhi oleh kak Windy, kakak ku pertama yang judes, supel tapi baik. Ia menggoyang-goyang dan mencipratkan air tepat di mukaku karena tak juga aku bangkit. Dengan lusuh dan wajah penuh emosi, luluh juga aku tuk ikuti kemauan kak windy, bergegas, berbenah menyiapkan seluk beluk perlengkapan sekolah yang telah didaftarkan mamakku 2 minggu lalu.

Ini namanya bersekolah. Saat segalanya menjadi pagi yang super sibuk, padahal hari masih gelap gulita, ayam masih sahutan berkokok, dan doa orang selesai sholat subuh masih terdengar jelas di seberang benteng sungai deli. Di suruh merasakan dinginnya air pagi yang harus di guyur dari rambut ke ujung kaki, dengan nada suara ngus-ngusan sambil menghentak-hentakkan gigi atas bawah yang berbunyi jelas seperti gerakan jalan paskibraka yang sering kulihat di tv saat 17an, aku bergetar kedinginan. Tak berselang, kulihat mamak membawakan handuk putih lebar, menutupiku, dan mennggunyuk-gunyukkan juga membersihkan sisa air yang masih melekat dalam kulit putih anak usia 5 tahun yang tak biasa mandi subuh. “Biasakan mandi pagi, namanya mau sekolah biar jadi presiden nanti” seru tawanya sambil mengikatkan handuk basah itu dibadanku.

Pagi itu menjadi sejarah bagiku. aku disuruh duduk rapi dan manis, sambil mendengarkan suara mesin mobil katana berwarna Merah tahun 90an milik ayahku yang sedang melakukan pemanasan untuk bertugas mengantarkan hari pertamaku bersekolah di TK Wahidin Sudiro Husodo. Dengan cekatnya, mamak bercerita segala hal tentang ini dan itu, boleh dan tidak boleh, semuanya dalam satu paket extra cepat sambil menyuapi aku dengan beberapa sendok  nasi plus telur dadar yang sedikit asin karena repotnya mamak pagi itu.

Setelah mamak berlalu, aku berdiri dan menatap seluruh diriku dengan nanar wajah yang aneh melihat penampilan pertamaku bersekolah. Sambil cekikikan dalam hati, mamak menarikku tuk bergegas pergi sambil memanggil wilda, kakakku nomor empat, tuk bergegas turut cepat masuk ke dalam mobil. “jangan lupa, biasakan baca doa sebelum berangkat. pandaikan???” tanyanya dengan khas vocal melayu kental tempahan Labuhan Deli, sambil memutarkan steer mobil melewati pagar rumah. Aku manggut sambil berkomat kamit membacakan doa berangkat sekolah versi diriku yang belum tahu mengenai makhraj huruf hijaiyah yang benar saat itu. Bismillahirrahmanirrahim…..

3 komentar: